HUKUMAN PENJARA VS ALTERNATIF LAIN

Beberapa orang berpikir bahwa cara terbaik untuk mengurangi kejahatan adalah dengan memberikan hukuman penjara yang lebih lama, sehingga orang takut berbuat kejahatan. Namun, yang lain percaya ada cara alternatif yang lebih baik yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka kejahatan.

Menurut saya dengan memberikan hukuman penjara yang lebih lama kepada pelaku tindak kejahatan tidak serta merta dapat mengurangi kejahatan, tetapi bisa juga mengurangi kejahatan, jika pelaku benar-benar jera dan masyarakat sekitar bisa mengambil pelajaran dan menjadikan hal tersebut sesuatu yang disegani atau ditakuti sehingga mereka akan berfikir untuk melakukan kejahatan. Penjara di indonesia tidak diciptakan untuk melahirkan rasa jera dalam bentuk hukuman, tetapi proses penyandraan dan pendidikan.

            Seperti yang kita ketahui bersama terkadang masi ada beberapa mantan narapidana yang masih melakukan kejahatan, memberikan hukuman lama didalam penjara tidak serta merta menjamin akan memberikan rasa jera kepada pelaku kejahatan. Tak jarang pula penjara menjadi tempat untuk narapidana dalam menambah ilmu kejahatan.

            Benar selalu ada berbagai cara dalam mengatasi setiap masalah, sama halnya dengan dalam menanggulangi kejahatan. Ada bebrapa alternatif yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kejahatan seperti misalnya.

  • Menjunjung tinggi norma dan agama dimasyarakat
  • Tindakan tegas dari aparat hukum
  • Tidak adanya perbedaan perlakuan hukuman berdasarkan tingkat ekonomi dan kasta

Pidana penjara diharapkan tidak hanya membawa efek jera bagi para pelakunya namun juga efek gentar terhadap masyarakat secara luas untuk tidak terlibat dalam suatu kejahatan.

TEORI VS PRAKTIK

Dalam pasar kerja saat ini, banyak yang beranggapan bahwa jauh lebih penting memiliki keterampilan praktis daripada pengetahuan teoretis. Di masa depan, pelamar pekerjaan mungkin tidak memerlukan kualifikasi pendidikan formal apa pun. Hal ini berdampak terhadap minat masyarakat untuk menempuh pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi.
Sejauh mana Anda setuju atau tidak setuju dengan pendapat bahwa keterampilan praktis jauh lebih penting daripada pengetahuan teroretis sehingga kualifikasi pendidikan formal tidak lagi diperlukan?

Menurut KBBI : Teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan  yang didukung oleh data dan argumentasi;  penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi dan argumentasi; asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan; pendapat, cara dan aturan untuk melakukan sesuatu. Menurut KBBI : Praktik adalah Pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam teori

Dengan mengetahui pengertian dari teori dan praktik, menurut saya keduanya adalah satu kesatuan yang penting dalam pasar kerja. Pendidikan berhubungan erat dengan teori untuk menambah pengetahuan dan praktik untuk meningkatkan keterampilan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak meningkatkan pengetahuan teoritis kita dan mengasah keterampilan praktik, agar keduanya berguna dengan baik di dalam kehidupan kita

Satu ilustrasi klasik Islam menyikapi hal ini seperti hadits yang disabdakan Nabi “Tidaklah seorang berilmu sampai ia belajar, tidaklah seorang berilmu terhadap suatu ilmu sampai ia mengamalkannya” dan melanjutkan Fudhail bin Iyadh Rahimullah berkata “Seorang Alim (berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya, dan apabila ia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar alim (berilmu)”. Ini satu statement control modern yang terlahir di era tradisi islam ketika Rasulullah masih hidup. Dalam satu analisis, apa yang menyebabkan satu hadits sampai saat ini tetap menjadi satu rujukan penting kehidupan manusia modern, lepas dari satu keyakinan beragama ternyata hadits mampu melestarikan dan memberikan solusi kehidupan yang mulia dalam sisi kehidupan sosial manusia beragama Islam.

Dari ilustrasi tersebut saya dapat mengambil kesimpulan bahwaannya sebuah ilmu atau teori yang kita peroleh tidak akan bernilai tanpa kita amalkan atau praktikkan, dan sekiranya kita tidak akan dapat melakukan sebuah praktik jika tidak memiliki sebuah teori atau pemahaman ilmu dasar terkait dengan hal apa yang ingin kita praktikkan atau lakukan.

Dan menurut saya banyak instansi atau perusahaan yang mementingkan kualifikasi pendidikan formal, untuk menjadi tolak ukur dalam menilai kualitas dan kelayakan dalam dunia kerja dan profesi yang diminatinya. Jadi sekiranya kita harus berusaha untuk menyeimbangkan keduanya.

DISCUSSION LEARNING METHODS

Dalam pelaksanaan perkuliahan di perguruan tinggi, beberapa dosen menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran di kelasnya. Menurut Anda, apa kelemahan dan kelebihan metode diskusi dalam perkuliahan? Tuliskanlah.

Jenis metode diskusi yang sering digunakan di dalam kelas ialah jenis metode diskusi kelompok kecil. Yang dimana guru atau dosen akan membagi para siswa(i) kedalam kelompok kecil yang beranggotakan 3-5 orang disetiap kelompok, kemudian diberikan sebuah topik pembahasan atau permasalahn yang berbeda-beda, namun masih dalam ranah materi yang sama. Menurut Rochman (1993: 108) metode diskusi di jelaskan sebagai metode yang membuat siswa aktif, semua siswa memperoleh kesempatan berbicara (berdialog satusama lain) untuk bertukar fikiran dan informasi tentang suatu topik atau masalah, atau mencari kemungkinan fakta dan pembuktian yang dapat di gunakan untuk memecahkan suatu masalah.

            Namun pada kenyataan nya yang saya lihat di dalam aktivitas pembelajaran diskusi di dalam kelas hanya ada beberapa orang yang berperan aktif atau berpastisipasi memberikan pendapatnya mengenai sebuah topik yang di diskusikan, mungkin mereka adalah orang-orang yang memiliki kepercayaan diri untuk berbicara didepan banyak orang dan mereka yang merasa cocok dengan metode pembelajaran diskusi ini, dan bagi orang-orang yang merasa kurang percaya diri untuk berpendapat didepan umum tentunya mereka akan pasif didalam proses pembelajaran diskusi ini, dan lebih memilih untuk sekedar memperhatikan proses diskusi berlangsung.

Ke banyakan orang beranggapan kelebihan dari metode diskusi ini dapat membuat pelajar melatih kepercayaan diri mereka untuk berbicara didepan umum, menyuarakan pendapat dan membangun argumen berbobot, berpikir kritis, mendorong para pelajar bertukar pikiran. Selanjutnya ialah berbicara mengenai kelemahan dari metode pembelajaran diskusi ini tentunya tidak terlepas bahwasannya, tentu pasti ada bebrapa siswa yang pasif atau kurang berpartisipasi secara aktif dalam proses diskusi, yang mungkin disebabkan karena pelajar kesulitan untuk mengeluarkan pendapat mereka secara ilmiah atau sistematis, juga terkadang dalam proses diskusi hanya didominasi oleh pelajar yang berani dan yang telah terbiasa berbicara, sehingga hal tersebut dapat membuat pelajar lainnya yang ingin mencoba merasa insecure

PEMBELAJARAN DARING DI MATA SAYA “SEBAGAI MAHASISWA”

Pembelajaran daring populer setelah virus corona merajalela di seluruh dunia. Pada saat virus covid 19 ini merajalela segala aktivitas kita dibatasi, dan seluruh masyarakat dihimbau untuk melakukan aktivitas dirumah dan secara online. Termasuk proses belajar mengajar. Istilah model pembelajaran daring mulanya digunakan untuk menggambarkan system belajar memanfaatkan penggunaan teknologi internet berbasis computer (Kuntarto, 2017). Pada pembelajaran daring, siswa diharapkan bisa menguasai atau memahami materi walaupun memberikannya tanpa adanya tatap muka secara langsung. Pembelajaran daring ini menuai banyak sekali kontroversi di masyarakat. Pelaksanaannya pun tentu membawa banyak sisi positif ataupun negatif meskipun begitu ipembelajaran harus tetap berlanjut. Pembelajaran daring ini mendorong guru untuk berfikir inovatif agar suasana pembelajaran semakin menarik dan tentunya siswa semakin semangat belajar serta antusias mereka dalam mengikuti pembelajaran.

Terkadang cara daring dinilai sulit. Selain itu, kemampuan teknologi dan ekonomi siswa berbeda-beda tentunya. Tidak semua siswa memiliki fasilitas yang menunjang pembelajaran daring, koneksi lemah, alat penunjang yang tidak mumpuni, dan kuota internet yang mahal menjadi hambatan nyata.

Namun dibalik semua hambatan pembelajaran daring tersebut, tentu daring masi memiliki kelebihan atau manfaat didalamnya, seperti melatih kemandirian, melatih kita menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi, menambah wawasan, waktu dan tempat yang fleksibel. Dan masih banyak lagi pengaruh dan dampak positif maupun negatif dari pembelajran daring ini. Yang terpenting adalah kesadaran bersama untuk terus semangat belajar dan memotivasi diri untuk berubah menjadi lebih baik kedepannya.  

Tingkatan tingkatan perubahan organisasi

Berdasarkan dari apa yang telah kami pelajari pada hari ini mengenai hal tingkatan perubahan organisasi bahwasannya dalam tingkat perubahan ada beberapa teori, yaitu:
-Teori Kurt Lewin
Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restraining forces).
-Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsangan (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme.
-Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu itu tergantung kepada kebutuhan.
-Teori Sistem Sosial
Menurut Teori ini, setiap perubahan di dalam suatu sistem, akan mempengaruhi bagian-bagian lain dari sistem tersebut.

Perubahan memiliki beberapa tingkatan mulai dari derajat perubahan kecil, menengah, hingga besar. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
-Derejat Perubahan Kecil
Individu (Promosi Individu-individu)
Kelompok (Tambahan karya baru pada kelompok yang ada)
Organisasi (Ciptakan departemen staf baru)


Derajat Perubahan Menengah
Individu (Program pelatihan)
Kelompok (Leburkan Kelompok)
Organisasi (Pengurangan angkatan kerja)


-Derajat Perubahan Besar
Individu (Ganti C.E.O)
Kelompok (Bubarkan kelompok kerja)
Organisasi (Restrukturisasi organisasi secara besar-besaran)

Dari beberapa tingkatan tersebut memiliki dampak Interaksi dari berbagai macam tingkatan perubahan organisasional.
DERAJAT PERUBAHAN KECIL : Perubahan individual tidak berdampak terhadap individual itu sendiri, tetapi berdampak menengah terhadap kelompok, dan berdampak kecil terhadap organisasi.
DERAJAT PERUBAHAN MENENGAH : Perubahan kelompok tidak berdampak apa-apa terhadap kelompok itu sendiri, tetapi berdampak besar terhadap individu, dan berdampak menengah terhadap organisasi.
DERAJAT PERUBAHAN BESAR : Perubahan organisasi tidak berdampak apa-apa terhadap organisasi itu sendiri, tetapi berdampak besar terhadap individual dan kelompok.

Ada beberapa kategori Perubahan Organisasi, diantaranya adalah sebagai berikut:
-Perubahan Struktur: Spesialisasi kerja, Wewenang, Mekanisme organisasi, Rancang ulang pekerjaan, Rantai komando, Rentang kendali, Sentralisasi, dan/atau Desentralisasi.
-Teknologi: Proses pekerjaan, Metode-metode, dan/atau Perlengkapan/alat kerja.
-Setting fisik: Perubahan ruang, dan/atau Letak tempat kerja
-Manusia: Sikap, Keterampilan, Harapan, Persepsi, dan/atau Perilaku.

FAKTOR-FAKTOR PERUBAHAN ORGANISASI

Organisasi dijadikan objek oleh kegiatan manusia, dimana manusia mencari manfaat yang sebesar-besarnya dari aktivitas organisasi melalui manusia-manusia yang ada
di dalamnya. Untuk mengalami perubahan tersebut, organisasi juga harus mengalami
perkembangan, dimana perkembangan ini merupakan tahapan untuk perubahan organisasi tersebut. Terdapat juga penolakan dalam malakukan perubahan dan perkembangan
organisasi sehingga perubahan dan perkembangan tersebut terhambat. Banyak factor yang mempengaruhinya, diantaranya yaitu orang-orang yang terdapat dalam organisasi itu
sendiri yang menghambat jalannya perubahan dan perkembangan organisasi itu sendiri.
Dalam menghadapi penolakan itu, ada upaya untuk mengatasi penolakan tersebut.

Faktor perubahan organisasi terbagi menjadi 2, yaitu:

Faktor internal

Adalah segala keseluruhan faktor yang ada di dalam organisasi dimana faktor tersebut dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi.
Proses kerjasama yang berlangsung dalam organisasi juga kadang-kadang merupakan penyebab dilakukannya perubahan. Problem yang timbul dapat menyangkut masalah sistem kerjasamanya dan dapat pula menyangkut perlengkapan atau peralatan yang digunakan. Sistem kerjasama yang terlalu birokratis atau sebaliknya dapat menyebabkan suatu organisasi menjadi tidak efisien adalah penyebab perubahan yang berasal dari dalam organisasi yang bersangkutan yang dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi.

Contoh Faktor Internal Perubahan kebijakan lingkungan, Perubahan tujuan, Perluasan wilayah operasi tujuan, Volume kegiatan bertambah banyak serta Sikap dan perilaku para anggota organisasi.

Faktor eksternal

Adalah penyebab perubahan yang berasal dari luar (atau sering disebut lingkungan) organisasi yang dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi. Organisasi bersifat responsive terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Oleh karena itu, jarang sekali suatu organisasi melakukan perubahan besar tanpa adanya dorongan yang kuat dari lingkungannya. Artinya, perubahan yang besar itu terjadi karena lingkungan menuntut seperti itu. Beberapa penyebab perubahan organisasi yang termasuk faktor ekstern adalah perkembangan teknologi, faktor ekonomi dan peraturan pemerintah.

Contoh Faktor Eksternal Politik, Hukum, Kebudayaan, Teknologi, Sumber daya alam, Demografi dan Sosiologi.